Belajar Bahasa Jepang Bagian 3 - Kata Tunjuk Benda Kono, Sono, dan Ano

Tata Bahasa

Jika pada pelajaran sebelumnya dibahas kata tunjuk benda kore, sore dan are maka kali ini akan membahasas kata tunjuk benda kono, sono dan ano. Sebenarnya dari segi arti tidak ada bedanya hanya berbeda dalam penggunaannya. Contohnya:
  1. Ini uang. (Kore wa okane desu.)
  2. Surat ini .... (Kono tegami wa ....)

Belajar Bahasa Jepang Bagian 3 - Kata Tunjuk Benda Kono Sono Ano
Gambar: dvdbagus.com
Dalam tata Bahasa Jepang untuk kalimat ini buku, maka akan berbeda dengan frasa buku ini. Pada kalimat nomor satu merupakan kalimat yang terdiri atas subjek kore dan predikat okane, sedangkan contoh nomor dua merupakan frasa yang terdiri atas kono dan tegami sebagai kata tunjuk.

Agar lebih jelas perhatikan contoh berikut:
  1. Are wa omocha desu. (Itu adalah mainan.)
  2. Sono nekutai wa kanojo no desu ka? (apakah dasi itu punya dia?)
  3. Kore wa sandaru ja arimasen ka? (Apakah ini bukan sendal?)
  4. Ano hito wa watashi no otosan desu. (Orang itu adalah ayahku.)

Jadi untuk menyatakan mainan ini adalah kore wa omocha desu, sedangkan mainan ini adalah kono omocha wa, bukan kore omocha.

Pada kalimat diatas menggunakan partikel no. No adalah partikel yang dipakai sebagai penanda untuk menyatakan:
  1. No berarti kepunyaan. Susunanya terbalik, yaitu diletakan dibelakang kata ganti. Contohnya kare no (punya dia laki-laki) atau kanojo no ashi (kaki dia).
  2. No bisa bernuansa dari atau berasal. Letaknya diantara kata benda atau kata tempat. Partikel no tidak bisa diikuti atau mengikuti kata kerja, seperti datang dari ....Contohnya Unsera no gakusei (mahasiswa dari unsera).
  3. No bisa bernuansa sebagai atau bagian dari. Contohnya Hito no ashi.

Kosa Kata

  1. Okane (Uang)
  2. Tegami (Surat)
  3. Omocha (Mainan)
  4. Shatsu (Kemeja)
  5. Nekutai (Dasi)
  6. Sandaru (Sendal)
  7. Kutsu (Sepatu)
  8. Tokei (Jam)
  9. Ashi (Kaki)
  10. Hito (Orang)

Latihan

Buatlah kata berikut ke dalam kata tunjuk benda kore, sore, are dan kono, sono, ano.
  1. Ashi
  2. Kutshu
  3. Shatsu
  4. Tokei
  5. Hito

Rahasia Mengapa Kursor Mouse Miring

Pernahkah bertanya mengapa disain mouse komputer dibuat miring? Karena sering melihatnya mungkin pertanyaan sederhana ini tak pernah terucap atau bahkan terpikirkan.

Secara umum kursor disetiap perangkat merupakan sebuah tanda panah miring yang melayang diantara objek-objek layar komputer. Kemiringannya sendiri sekitar 45 derajat ke kiri. Namun perlu diketahui sebelum dibuat miring, kursor zaman dahulu didesain secara tegak. Lalu untuk dibuat miring?

Rahasia Mengapa Kursor Mouse Miring
Gambar: www.kompas.com

Menurut penjelasan di situs Stack Exchangemouse dan kursor dibuat pertama kali oleh Douglas Englebart pada tahun 1968 dibuat secara tegak. Sampai hadirnya komputer Xerox PARC yang dibuat sekitar tahun 1970-an, kursor lalu didesain ulang dengan menambahkan kemiringan 45 derajat ke kiri dengan maksud agar mudah dicari dilayar. Hal ini lantaran layar komputer pada saat itu masih beresolusi rendah sehingga kursor sulit dibedakan dengan objek lain pada layar komputer.

Setelah kursor miring buatan Englebart diperkenalkan, banyak perusahaan teknologi perangkat lunak komputer mulai mengadopsinya. Sejak saat itu sampai sekarang kursor dengan disain miring 45 derajat kekiri masih digunakan.

Belajar Bahasa Jepang Bagian 2 - Kata Tunjuk Benda Kore, Sore, dan Are

Belajar Bahasa Jepang Bagian 2 - Kata Tunjuk Benda Kore Sore Are
Gambar: mametsaru.wordpress.com

Tata Bahasa

Tidak seperti Bahasa Indonesia yang hanya memiliki dua kata tunjuk ini dan itu, Bahasa Jepang memiliki tiga meliputi:
  1. Kore (ini). Untuk menunjukan benda yang lebih dekat dengan pembicara.
  2. Sore (itu). Untuk menunjukan benda yang jauh dari pembicara namun dekat dengan lawan bicara.
  3. Are (itu). Untuk menunjukan benda yang jauh dari pembicara maupun lawan bicara.

Agar lebih jelas perhatikan contoh berikut:
  1. Kore wa hon desu. (Ini Buku.)
  2. Sore wa jisho ja arimasen. (Itu bukan kamus.)
  3. Are wa megane desu ka? (Apakah itu kaca mata?)

Kosa Kata

  1. Hon (buku)
  2. Megane (kaca mata)
  3. Jihso (Kamus)
  4. Himawari (bunga matahari)
  5. Isu (kursi)
  6. Terebi (televisi)
  7. Tsukue (meja)
  8. Jitensha (sepeda)
  9. Jakaruta (Jakarta)
  10. Resutoran (restoran)

Latihan

Rubahlah kalimat berikut menjadi Bahasa Jepang maupun Indonesia.
  1. Apakah ini buku?
  2. Itu bukan kursi.
  3. Itu adalah sepeda.
  4. Are wa himawari desu ka?
  5. Sore wa isu desu.
  6. Kore wa resutoran ja arimasen ka?

Belajar Bahasa Jepang Bagian 1 - Kalimat Dasar

Aku adalah salah satu penggemar budaya Jepang, tapi tidak seekstrim Otaku atau kategori penggemar budaya Jepang lainnya. Aku suka budaya Jepang terutama anime dan lagunya yang unik dan berlirik kreatif karena mengingatkan aku pada masa kecil. Dan kebanyakan hal yang kusuka dari Jepang adalah yang berhubungan dengan masa kecilku. Anime masa kecil favoritku salah satunya Hunter x Hunter (sudah tamat bulan-bulan kemarin). Koleksi animeku yang sudah ditonton pun hanya berkutat di anime jadul.

Untuk menambah ilmu beberapa tahun lalu meminta ayah untuk membelikan buku belajar Bahasa Jepang, lalu dibelikan dua buah buku, ditambah satu buku hasil minjem ke Meilani teman SMA-ku. Tapi dengan kesibukanku bersama kemalasan baru belajar beberapa bab selanjutnya terbengkalai.

Aku putuskan untuk belajar lagi dan menuliskan apa yang aku pelajari di blog ini. Insyaallah akan terus diperbaharui sebagai bahan pembelajaran aku dan teman-teman pembaca.

Belajar Bahasa Jepang Bagian 1 - Kalimat Dasar
Gambar: sukmonogagat.wordpress.com

Tata Bahasa

Hal pertama yang harus diperhatikan dalam belajar Bahasa Jepang adalah apakah dalam kalimat memiliki kata kerja atau tidak. Dalam Bahasa Jepang kata kerja selalu diletakan pada akhir kalimat. Jika tidak ada maka diakhiri dengan partikel desu.

Contoh kalimat yang tidak memiliki kata kerja (dicampur dengan Bahasa Indonesia):
  1. Saya Achmad Hadi Kurnia desu.
  2. Dia (laki-laki) dokter desu.
Partikel desu sendiri tidak memiliki arti.

Hal kedua yang harus diperhatikan adalah bahwa setelah subjek selalu diikuti partikel wa. Subjek bisa berupa topik kalimat atau pokok kalimat. Partikel wa sendiri sebenarnya tidak mempunyai arti, tapi kadang sepadan dengan kata adalah dalam Bahasa Indonesia.

Maka contoh diatas digabungkan akan menjadi:
  1. Saya wa Achmad Hadi Kurnia desu.
  2. Dia (laki-laki) wa dokter desu.
Kata saya dan dia merupakan subjek, maka harus diikuti dengan partikel wa.

Kalimat diatas jika terjemahkan ke dalam Bahasa Jepang menjadi:
  1. Watashi wa Achmad Had Kurnia desu.
  2. Kare wa isha desu.
Lalu bagaimana jika ingin kalimat diatas menjadi bentuk negatif? Solusinya dengan mengganti partikel desu dengan ja arimasen. Berikut contohnya:
  1. Watashi wa Achmad Had Kurnia ja arimasen.
  2. Kare wa isha ja arimasen.
Terakhir, bagaimana cara untuk merubah kalimat diatas menjadi bentuk kalimat tanya positif maupun negatif? Caranya adalah dengan menambahkan partikel ka diakhir kalimat.
  1. Watashi wa Achmad Had Kurnia (desu | ja arimasen) ka?
  2. Kare wa isha (desu | ja arimasen) ka?

Kosa Kata

  1. Watashi = Saya
  2. Anata = Kamu
  3. Kare = Dia laki-laki
  4. Kanojo = Dia perempuan
  5. Dare = Siapa?

Latihan

Susunlah kata-kata berikut menjadi bentuk positif, negatif dan tanya positif dan tanya negatif.
  1. Gakko (sekolah)
  2. Okasan (ibu)
  3. Otosan (ayah)
  4. Gakusei (siswa)
  5. Enpitsu (pensil)

Belum Lama Dibeton, Jalan Dibongkar PDAM

Sekitar pukul delapan aku berangkat bekerja ke kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Lebak. Saat di lampu merah Malangnengah saya merasa aneh ada seperti galian yang ditutupi oleh seng dan dikerumungi oleh tukang ojek (berada di dekat pangkalan ojek -red).

Jika kamu jeli, kamu akan melihat pojok tengah kanan dibawah pohon disitu ada galian PDAM, jadi aku menganggap galian ini pun kerjaan PDAM.

Galian PDAM di Lampu Merah Malangnengah
Galian PDAM di Lampu Merah Malangnengah

Walaupun ini demi perbaikan dan peningkatan layanan PDAM di wilayah Kota Rangkasbitung, aku menyesalkan karena tidak ada tata kelola kota untuk mengantisipasi atau mengakomodir kasus seperti ini. Pasalnya jalan ini belum lama dibeton dan jalanya pun masih bagus.

Di TPU Malangnengah pun ada galian PDAM yang membentang sampai Bunderan Cijoro. Didepan rumah aku pun sempat dilewati untungnya disebrang jalan jadi bangunan aku tidak rusak.

Aku berharap infrastruktur yang telah rusak bisa dikembalikan seperti semula demi kenyamanan masyarakat.